Kiat-Kiat Menjadi Guru Hebat di Era Digital

Kiat-Kiat Menjadi Guru Hebat di Era Digital
Prof. Dr. Anik Ghufron, M.Pd dan Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng dalam 'Webinar Pendidikan Kabupaten Kebumen'.

SahabatGuru - Pada Webinar Pendidikan Kabupaten Kebumen (9/10) yang diadakan oleh SahabatGuru menghadirkan dua narasumber yaitu Prof. Dr. Anik Ghufron, M.Pd Guru Besar Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta dan Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng Guru Inspiratif dan Kepala Balai Pendidikan Menengah Kulon Progo yang membahas mengenai model pembelajaran digital yang relevan bagi peserta didik dan bertransformasi menjadi guru cakap digital yang akan melukis dan mewarnai masa depan anak Indonesia dengan membudayakan riset.

Dalam perspektif pendidikan terdapat tantangan revolusi industri 4.0 yaitu pertama adalah adanya perubahan perilaku generasi Z dalam konteks pembelajaran hal ini meliputi terdapat potensi distraksi yang cukup tinggi pada setiap individu, adanya information overload yang bahkan bisa tidak terverifikasi, dan adanya dominan pada interaksi virtual.

Tantangan kedua adalah adanya perubahan metode pengajaran, hal ini dapat dilihat dari adanya penggunaan konsep baru seperti flipped classroom, selain itu juga terdapat infrastruktur baru seperti berbagai perangkat yang berbasis virtual. Tantangan yang ketiga adalah adanya perubahan dalam proses pembelajaran yang terlihat dari infrastruktur pada pembelajaran, adanya peningkatan kapasitas komputasi, pergeseran presense learning menuju distance learning, dan massive vs personalize learning.  

Prof. Dr. Anik Ghufron, M.Pd. mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat Indonesia sedang mengalami masa transisi yang barawal dari masyarakat offline (digital immigrant) menjadi masyarakat online (digital native). Selain itu, proses pembelajaran baru yang saat ini digunakan adalah melalui play, learn, research and produce.  

Hal ini juga diungkapkan oleh Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng bahwa terdapat kedahsyatan perubahan di dunia yaitu adanya perkembangan teknologi informasi yang mengubah peradaban manusia, Era 4.0 merupakan siklus peradaban yang didukung oleh teknologi informasi, tuntutan guru untuk mengajar generasi Z dan alpha dengan segala bekal yang telah dibawa dan tantangan perubahan jaman, generasi pemenang bukanlah generasi yang kuat tetapi generasi adaptif terhadap perubahan, serta bagaimana menyiapkan guru adaptif pembelajar yang siap mengajar di dalam dan di luar kelas.  

Jawaban dari tantangan tersebut adalah dengan digitalisasi dan berinovasi yang dapat dilakukan di era new normal (sedang dan setelah COVID-19). Pemerintah juga perlu untuk berkomitmen peningkatan investasi di pengembangan teknologi digital dan digital skills. Selain itu, juga adanya kolaborasi antara dunia industri, akademisi, dan masyarakat (triple helix) untuk mengidentifikasi inovasi era digital yang dibutuhkan. Meneliti, mengembangkan, mengkaji, menerapkan inovasi dan prototype teknologi terbaru juga perlu dilakukan.

Prof. Dr. Anik Ghufron, M.Pd menyatakan bahwa untuk melakukan kegiatan pembelajaran di era digital dapat dengan menerima kondisi saat ini dan mengembangkan metode pembelajaran di era digital yang inovatif dan kreatif sehingga peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Saat ini terdapat pergeseran paradigma pembelajaran dimana saat ini pembelajaran berfokus pada infromasi dapat diperoleh dimana saja dan kapan saja, adanya komputasi yang artinya akan lebih cepat dengan penggunaan mesin, otomasi yang dapat menjangkau segala pekerjaan rutin, dan komunikasi yang dapat dilakukan dari mana saja dan ke mana saja. Saat ini mendorong siswa untuk mencari tahu, merumuskan masalah (menanya), berpikir analitis (pengambilan keputusan), dan menekankan pentingnya kerjasama serta kolaborasi. 

Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng mengungkapkan bahwa kekuatan teknologi dapat menembus atau meningkatkan mutu pembelajaran. Sehingga, Strategi IT yang direncanakan perlu beririsan dengan rumusan dan tujuan pembelajaran dan adanya dukungan dari guru-guru. Terdapat beberapa bentuk dari pembelajaran berbasis TIK yaitu pembelajaran berbasis komputer, internet sebagai media pembelajaran, dan e-learning dalam kegiatan pembelajaran.

Guru yang mampu bertahan di abad 21 adalah gruu yang memiliki pribadi yang matang, fleksibel, kreatif, inovatif, cerdas, dan jujur. Selain itu, memiliki motivasi tinggi dan antusias terhadap tugas, memiliki target dan semangat dalam tugas, dapat bekerja mandiri dan atau dalam tim dengan baik, memiliki kemampuan IT dengan baik, mampu beradaptasi pada perubahan, cakap berbahasa Inggris, dan semangat saat bertugas.

Selain guru, siswa di Abad 21 diharapkan juga memiliki kecakapan seperti kualitas karakter, kompetensi, dan literasi dasar. Kualitas karakter dilihat dari siswa ketika menghadapi lingkungan yang terus berubah yang meliputi dari iman dan taqwa, terdapat keingintahuan, inisiatif, gigih, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, dan kesadaran sosial dan budaya. Sedangkan pada komptensi dilihat dari siswa menghadapi tantangan yang kompleks, hal ini dapat dilihat dari kemampuan berpikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Sedangkan pada literasi dasar adalah ketika siswa menerapkan keterampilan inti untuk kegiatan sehari-hari, yang dimana meliputi baca tulis, berhitung, literasi sains, literasi informasi teknologi dan komunikasi, literasi keuangan, serta literasi budaya dan kewarganegaraan.

Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng memberikan resep untuk menjadi guru yang profesional yaitu dengan memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap keberhasilan anak didiknya dan terapkan 9 kebiasaan perilaku guru tangguh yang meliputi proaktif, mengacu pada tujuan kahir, membuat prioritas, saling menghidupi, mendengar baru didengar, bersinergi dan kolaborasi, pembaruan secara terus-menerus, berjiwa kewirausahaan, dan memiliki spirit baru untuk maju.

Filosofi Ki Hajar Dewantara dapat dijadikan pedoman dalam mengajar bagi guru. Hal ini meliputi untuk menjadi guru yang amor, amot, dan among. Amor yang artinya adalah hadir, dekat, bersama, menyatu, dan seperasaan dengan siswa. Amot artinya adalah mampu memuat segala beban, keluhan, dan harapan siswa. Among artinya adalah menjaga, mencukupi, mengasuh, mengasihi, dan mengasah siswa.

Guru sangat perlu mengetahui bahwa anak belajar dari 10% dari apa yang didengar, 20% dari apa yang dibaca, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan.  

Terdapat 8 etos guru inspiratif mendidik di Abad 21 yaitu:

  1. Mendidik adalah Rahmat; mendidik dengan tulus penuh syukur.
  2. Mendidik adalah Amanah; mendidik dengan benar penuh tanggung jawab.
  3. Mendidik adalah Panggilan; mendidik dengan tuntas penuh integritas.
  4. Mendidik adalah Aktualisasi; mendidik dengan hati penuh semangat.
  5. Mendidik adalah Ibadah; mendidik dengan serius penuh kecintaan.
  6. Mendidik adalah Seni; mendidik dengan cerdas penuh kreativitas.
  7. Mendidik adalah Kehormatan; mendidik dengan tekun penuh keunggulan.
  8. Mendidik adalah Pelayanan; mendidik dengan paripurna penuh kerendahan hati.

Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng mengugkapkan bahwa terdapat kunci sukses di bidang apapun yaitu dengan memiliki tujuan, mecintai kehidupan sebagai anugerah terindah dari-Nya, jalin interaksi yang baik, hargai setiap pekerjaan yang dilakukan, tegas dalam bertindak, menikmati kegagalan dan tidak putus asa, serta selalu bersikap disiplin.

Hal yang dapat dilakukan sebagai benteng utama perubahan disruptif adalah dengan menguatkan karakter. Kekuatan karakter pada guru dan siswa dapat melalui pembiasaan dan kecintaan guru serta siswa pada penelitian. Untuk mengembangka budaya meneliti pada siswa dapat dengan memberi ruang siswa berimajinasi (intensif), keleluasaan (kebebasan pikiran), melegitimasi pemikiran gila/aneh, melakukan hubungan antara objek (melahirkan ide), memberi kesempatan siswa selalu bergembira dan rileks, serta membiasakan berdoa kepada-Nya.

Menjadi guru peneliti juga harus memiliki komitmen yang kuat, konsisten, dan konsekuen. Komitmen berarti siap berkorban untuk siswa bimbingannya, konsisten adalah mampu dan bertahan dalam proses pembimbingannya, serta konsekuen adalah memberi contoh dan selalu mengikuti perkembangan jaman.

Namun yang terpenting adalah untuk menjadi guru dengan hati yang dimana Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng memberikan kutipan menyentuh untuk para guru yaitu "The best teacher teach from the heart, not from the book." yang artinya adalah guru terbaik itu mengajar dan mendidik siswanya dari hati, bukan dari buku.