Life Skill Education: Mencegah Penyalahgunaan Informasi Bagi Siswa Selama Pandemi

Informasi digital sering kali membuat siswa sekolah dasar meniru dan menjadikannya alasan untuk tidak belajar. Apalagi pandemi ini membuat mereka memakai prinsip "no gadget, no life". Maka dari itu, life skill education menjadi solusi agar peserta didik bisa memahami dan menganalisis informasi.

Life Skill Education: Mencegah Penyalahgunaan Informasi Bagi Siswa Selama Pandemi
Anak SD sekarang terbiasa dengan gadget. Apa dampak buruknya? [koranbogor]

PENDIDIKAN bukan hanya tentang ilmu pengetahuan atau teori tentang suatu bidang. Namun juga tentang bagaimana siswa berperilaku dan memiliki sikap yang sesuai dengan keadaan, usia, maupun konteks. Keterampilan kecakapan hidup, yang dikenal dengan life skill education, menjadi salah satu upaya sekolah mematangkan aspek karakter pada peserta didik.

Berbicara mengenai karakter, peserta didik yang menempuh studi formal awal (SD) menjadi salah satu target utama penerapan life skill education ini. Kemampuan ini harus dilakukan sedini mungkin. Terutama karena makin banyaknya pengaruh perkembangan zaman yang membuat siswa terbawa arus agar tidak boleh tertinggal. Padahal banyak tren dan informasi sesat yang justeru bisa menjerumuskan sikap dan pemikiran siswa. Karena itu sedini mungkin siswa harus diberi pemahaman dan keterampilan menghadapi banjir besar informasi yang berlangsung setiap saat. Kuncinya adalah literasi. 

Up to date memang sangat bagus untuk bisa lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan atau membuat sebuah karya. Tetapi perkembangan zaman membuat anak usia sekitar 6 hingga 12 tahun ini terdampak efek negatif, seperti informasi yang berlebihan atau hoax, mempengaruhi cara berpikir, penyalahgunaan kosa kata dan informasi, meniru apa yang ia lihat di internet, juga dapat mempengaruhi sikap terhadap orang lain. Apalagi dengan adanya pandemi seperti ini membuat siswa menerapkan prinsip "no gadget no life".

Siswa sekolah dasar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka tidak akan ragu untuk mencoba apa yang dilihat atau didengar. Misalnya, informasi yang awalnya hanya sebatas lelucon seperti "Belajar adalah hal yang merugikan. Karena ketika belajar kita akan pintar, setelah itu rata-rata akan menjadi dokter, lalu dokter adalah orang yang mengurus pasien covid dan memungkinkan untuk terkena virus tersebut. Sehingga, ketika virus tersebut berada dalam tubuh dan menjadi lebih serius, dokter tersebut akan bertemu dengan kematian. Jadi, sekarang jangan pernah belajar karena itu akan menyebabkan kematian."

It's a simple thing. Sesederhana itu logikanya. Jika orang dewasa membacanya, mereka akan tertawa dan melupakan hal tersebut. Jelas itu logika sesat (fallacy). Namun, berbeda dengan anak yang akan memproses secara serius hal tersebut, meniru dan menjadikan sebuah alasan ketika orang tuanya mengajaknya untuk belajar. Itu sebab pendidikan kecakapan hidup (life skill education) bisa menjadi solusi untuk permasalahan tersebut karena sesuai dengan tujuannya yaitu membuat peserta didik mampu memiliki kemampuan dasar seperti memahami dan menganalisis informasi, merumuskan suatu permasalahan, mempergunakan teknologi sebaik dan seoptimal mungkin.

Sesuai dalam pedoman pendidikan kecakapan hidup (life skills) yang dikeluarkan oleh Direktorat Tenaga Tekun, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Departemen Pendidikan Nasional (Ditjen PLS, 2003) skill education merupakan sebuah sistem pendidikan di mana kecakapan hidup menjadi hal yang perlu ditumbuhkembangkan dalam setiap peserta didik. Sehingga pada saatnya mereka menjadi bagian dari masyarakat yang mampu berpikir dan bertindak secara dewasa, kritis, berakhlak dalam menyikapi kehidupan, dapat memberi kontribusi positif serta tetap survive di tengah-tengah kehidupan pada zamannya.

Pendidikan life skills juga menjadi salah satu alternatif sebagai upaya mempersiapkan peserta didik agar memiliki sikap dan kecakapan sebagai bekal bagi kehidupannya kelak melalui sebuah kegiatan pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan.

Sistem pendidikan ini bertumpu pada empat pilar pembelajaran yaitu:

  1. Learning to know (belajar untuk memperoleh pengetahuan);
  2. Learning to do (belajar untuk dapat berbuat/bekerja);
  3. Learning to be (belajar untuk menjadi orang yang berguna); dan,
  4. Learning to live together (belajar untuk dapat hidup bersama dengan orang lain).

Lantas, bagaimana menerapkan pendidikan ini ketika pandemi?

Dari empat pilar pembelajaran di atas, banyak metode dan strategi yang bisa dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas hidup dengan tidak menyalahgunakan informasi. Seperti misalnya pembelajaran dengan model learning by doing, pembelajaran yang fokus pada pemecahan masalah, pembelajaran informal dengan keluarga seperti meluangkan waktu untuk meluruskan informasi yang kurang tepat, dan mengalihkan perhatian siswa sekolah dasar dari informasi yang kurang relevan dengan pembelajaran atau usianya.

Sekali lagi, kuncinya adalah literasi. 

REGINA MAHESWARI SANIPUTRI

REFERENSI

Baruwadi, D. (2008). Penyelenggaraan Pendidikan Kecakapan Hidup Dalam Peningkatan Kemandirian Pemuda.

Hamidi, J. (2016). Perlindungan Hukum terhadap Disabilitas Dalam Memenuhi Hak Mendapatkan Pendidikan dan Pekerjaan. 23(4), 652–671.

Mislaini. (2017). Pendidikan dan Bimbingan Kecakapan Hidup (Life Skills), Jurnal Ilmiah Pendidikan, 01(1), 147–163.

Pelipa, E. D., & Marganingsih, A. (2018). Pengaruh Praktik Kerja Terhadap Kemampuan Life Skill Mahasiswa, JURKAMI : Jurnal Pendidikan Ekonomi, 3(2), 87–95.