Perubahan Kurikulum Atasi Krisis dan Pemulihan Pembelajaran

Pandemi Covid 19 menjadikan pendidikan di Indonesia mengalami krisis dan semakin tertinggal dengan hilangnya pembelajaran (learning loss). Kemunduran atau learning loss secara akademis berkaitan dengan kesenjangan yang berkepanjangan menjadi salah satu tema bahasan dalam diskusi G20 di bidang pendidikan.

Perubahan Kurikulum Atasi Krisis dan Pemulihan Pembelajaran
Ilustrasi Pembelajaran. (Sumber: Freepik)

Upaya untuk memulihkan kondisi ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan Merdeka Belajar Episode Ke-15 : Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar. Kurikulum baru dirancang untuk mengatasi krisis dan pemulihan pembelajaran akibat pandemi.

"Learning loss itu dampaknya sangat luar biasa dan mengembalikan anak-anak ke sekolah itu tidak mudah. Negara perlu memastikan kembali ke sekolah aman," ujar Dirjen GTK Kemendikbudristek Iwan Syahril dalam acara Ngopi Sore via Youtube, Kamis (14/4/2022).

"Pola yang terlihat itu kita harus penyederhanaan kurikulum. Ke depan kurikulum yang lebih sederhana yang bisa menyesuaikan tumbuh kembang anak dan tantangan zaman. Bisa memberi ruang untuk pengalaman-pengalaman yang mengasah literasi dan numerasi," papar Iwan.

Iwan mengatakan literasi dan numerisasi harus menjadi pondasi untuk pembelajaran ke depannya, jika tidak memiliki ke dua hal tersebut seseorang tidak akan mampu untuk memunculkan inovasi-inovasi yang baru. Langkah pemerintah untuk melakukan perubahan kurikulum dinggap merupakan langkah yang tepat. Hal ini dikarenakan kurikulum merdeka memiliki berbagai kelebihan, di antaranya :

1. Lebih sederhana dan mendalam
Kurikulum Merdeka lebih berfokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru, dan menyenangkan.

2. Lebih merdeka
Bagi peserta didik khususnya jenjang SMA tidak ada program peminatan di SMA.

3. Lebih relevan dan interaktif
Pembelajaran melalui kegiatan proyek memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.

Selain inovasi kurikulum yang dicetuskan Kemdikbudristek, penyelesaian permasalahan pendidikan diselesaikan lintas sektor berbagai kementerian. Sekolah Penggerak dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka di sekolah adalah budaya merefleksi dan berkolaborasi baik dengan guru dan orang tua, upaya untuk melihat kekuatan yang ada di sekolah, termasuk pemberdayaan dari kekuatan tersebut serta upaya mengatasi kendala yang dihadapi oleh pendidik.

Referensi :
Detikedu.com
Kompas.edu.com
Kemendikbud.go.id

Eko Susilo
Litbang SahabatGuru