Eko Yulianto: Ekosistem Digital Pendidikan Harus Ditingkatkan!

Eko Yulianto: Ekosistem Digital Pendidikan Harus Ditingkatkan!
Pemaparan Materi Eko Yuliyanto, S.Pd.Si., M.Pd. [sahabatguru]

SahabatGuru - Untuk kelima kalinya webinar pendidikan kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Informatika, Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, APKASI, YPAN dan SahabatGuru yang diadakan pada Selasa (31/8). Ribuan guru di Kabupaten Musi Rawas mengikuti dengan antusias.

Webinar kali ini mengangkat tema “Mewujudkan Guru Cakap Digital, Cakap Numerasi, dan Berkarakter dalam Menghadapi Tantangan Global”. Tujuannya antara lain untuk mewujudkan ekosistem digital pendidikan sebagai upaya nyata akselerasi peningkatan literasi digital guru.

Salah satu pembicara yang dihadirkan pada webinar kali ini yaitu Eko Yuliyanto, S.Pd.Si, M.Pd, dosen Universitas Muhammadiyah Semarang sekaligus pemenang sayembara MBKM. Dalam materinya, ia memaparkan mengenai pentingnya ekosistem digital pendidikan dan literasi digital untuk guru.

“Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Kemendikbud, indeks literasi digital Indonesia berada pada angka 3,47 dari skala 1 sampai 4. Ini sebenarnya merupakan awal yang baik, tetapi masih perlu perbaikan dalam implementasi agar lebih optimal. Realitanya, masih banyak daerah-daerah yang kurang tersentuh literasi digital,” ujar Eko.

“Ada banyak kompetensi yang dibutuhkan oleh anak-anak kita. Terkait hal tersebut, ada tiga hal, yaitu foundational literacies, competencies, character qualities. Fokus kita saat ini yaitu pada ICT literacy (bagian dari foundational literacies)," jelas Eko. ICT literacy menjadi sangat penting, sehingga menjadi gerakan nasional yang digencarkan oleh Kominfo saat ini.

Peningkatan literasi digital memang perlu didukung oleh para pemangku kepentingan sekolah agar tercipta ekosistem pendidikan bermutu, yang nantinya berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

Data Kominfo, saat ini sudah ada 37 juta pengguna internet baru, sehingga sangat perlu peningkatan literasi digital.

“Internet memang memiliki dampak buruk dan dampak baik. Dampak baik inilah yang perlu kita ambil. Saat ini kegiatan e-learning sudah menjadi habits kita. Oleh karena itu, perlu adanya improvisasi penggunaannya agar efektif,” papar Eko.  

Eko juga menjelaskan mengenai langkah-langkah dalam mempersiapkan ruang kelas virtual.

Pertama, pilih sistem manajemen pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Kedua, tinjau bahan pembelajaran online. Ketiga, gunakan aplikasi kalender dan komunikasi untuk memperlancar komunikasi guru dengan siswa. Keempat, pilih platform streaming yang aman/mempunyai jaringan pengiriman konten. Kelima, pilih aplikasi yang mendorong kolaborasi agar siswa turut aktif.

“Perbedaan proses mengajar sebelum dan sesudah ada teknologi memiliki perbedaan mencolok. Jika sebelum ada teknologi maka kelas berbasis individu, saat ini bisa dilakukan pembelajaran yang kolaboratif. Jika dahulu pendekatan terpusat pada guru, saat ini pembelajaran terpusat pada siswa,” jelas Eko.

Pada kegiatan pembelajaran, tidak menutup kemungkinan akan ada siswa yang sangat aktif bertanya/mungkin lebih pintar daripada gurunya. Kejadian ini mungkin saja terjadi dan tidak perlu dipermasalahkan. Kolaborasi antara guru dan siswa bisa bermanfaat untuk saling berdiskusi dan mempelajari ilmu. Oleh karena itu, meskipun diberlakukan e-learning, pemilihan aplikasi yang bisa menuntut kolaborasi antara guru dan siswa sangat diperlukan untuk menjaga dan memupuk kreativitas siswa.

Melalui platform SahabatGuru, tersedia banyak pelatihan untuk guru-guru se-Indonesia agar lebih terlatih kompetensinya. Dengan adanya kondisi (platform) yang mendukung ini, guru-guru akan mampu meningkatkan literasi digitalnya. Dengan demikian, kreativitas guru dalam literasi digital akan terjadi peningkatan.

ANIS SAFITRI