Kurikulum Baru 2022! Guru Perlu Bersiap?

Kurikulum 2022 sudah ramai diperbincangkan belakangan ini oleh sebagian orang. Sudah santer pula pemberitaan di berbagai portal media online yang mengabarkan tentang kurikulum 2022. Berita yang beredar bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendibudristek) berencana menawarkan kurikulum anyar dan lebih fleksibel pada 2022.

Kurikulum Baru 2022! Guru Perlu Bersiap?
Nadiem Makarin berpidato dalam acara HGN 2021 (Sumber: Google)

SahabatGuru - Kurikulum 2022 dikabarkan bahwa sekolah-sekolah diberikan kebebasan untuk memilih kurikulum yang akan diterapkan di sekolahnya tergantung kebutuhan masing-masing sekolah. Kurikulum baru ini sifatnya tidak wajib. Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendibudristek) memberi kebebasan untuk setiap sekolah memiliki kemerdekaan dalam menentukan kurikulum mana yang mau dipakai.

Dikutip dari Republika.co.id, Nadiem dalam rapat kerja dengan parlemen yang disiarkan di Youtube, pada Kamis (2/12/21) menerangkan, ketika sekolah dipaksa mengikuti suatu kebijakan, kemungkinan kebijakan berjalan dengan baik dan sesuai harapan sangatlah rendah. Jika suatu kebijakan ingin berhasil, harus ada kemauan yang timbul dari para guru dan kepala sekolahnya. “Kita sudah bertahun-tahun melihat ini terjadi, bukan hanya terjadi di Indonesia. Apa pun yang dipaksakan, itu probabilitas suksesnya sangat rendah,” papar dia.

Kurikulum 2022 kini sedang diujikan di beberapa sekolah penggerak. Nadiem menyatakan kurikulum ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah-sekolah yang capaiannya paling tertinggal, dengan kurikulum baru ini sekolah yang paling tertinggal akan dengan cepat mengejar ketertinggalan. Dalam prosesnya sekolah yang memutuskan untuk menerapkan kurikulum 2022 akan diberikan pendampingan oleh Kemendikbudritek dengan harapan sekolah yang menerapkan kurikulum baru ini berjalan lancar.

Anindito Aditomo yang akrab di panggil Nino, Kepala Badan Standar Kurikulum dan Assesment Pendidikan Kemendikbudristek saat diwawancarai CNN Indonesia mengatakan kurikulum baru ditawarkan sebagai opsi, bukan kewajiban sekolah tidak akan dipaksa secara masal untuk mengganti kurikulum. “Bagian dari paradigma merdeka belajar kita, kita percaya bahwa sekolah perlu diberi keleluasaan termasuk dalam memilih kurikulum paling relevan, paling cocok bagi kebutuhan dan konteks sekolah masing-masing,” jelas dia.

Nino menerangkan bahwa kebijakan tentang kurikulum baru ini tujuannya adalah mendorong perbaikan kualitas proses dan hasil belajar. Pandemi sudah mendistrupsi pendidikan mengakibatkan anak-anak kehilangan kesempatan belajar, karena itu sejak tahun 2020 sudah ditawarkan kurikulum darurat sebagai opsi yang lebih sederhana dan lebih cocok di situasi pandemi supaya guru bisa fokus pada materi esensial. Ia mengatakan kurikulum darurat sudah di evaluasi.

“Dari evaluasinya menunjukkan sangat-sangat positif. Guru bisa tidak kejar tayang, guru bisa lebih fokus pada materi esensial, bisa lebih bayak dialog, memberi umpan balik yang bermakna dan hasil belajar anak-anaknya jauh lebih tinggi dari pada sekolah yang terapkan K13 secara penuh,” tegas dia.

Meskipun kurikulum yang dianut sekolah-sekolah di Indonesia berbeda-beda (karena kurikulum 2022 tidak diwajibkan) tetapi tetap standar kompetensi yang ingin dihasilkan berseragam. Seluruh kurikulum yang ada mengacu pada standar pendidikan yang sama tambahnya.

Nimo di media sosial Instagramnya @ninoaditomo menuliskan bahwa kurikulum prototipe sedang diterapkan secara terbatas di 2.500-an sekolah di Indonesia memalui program sekolah penggerak. Sekolah yang menjadi peserta program ini sebagai besar merupakan sekolah-sekolah yang biasa. Bukan sekolah yang biasa dianggap favorit atau unggul. Bukan sekolah yang punya fasilitas berlebih. Banyak yang justru kekurangan secara sarana-prasarana. Sebagian juga berada di daerah tertinggal.

Ia berpendapat uji coba juga memberi wawasan kepada guru tentang bagaimana memaknai dan menerapkan kurikulum. “Artinya kurikulum dievaluasi oleh aktor paling penting: para guru! Evaluasi itu dilakukan dalam konteks nyata. Ini melengkapi model uji publik yang biasanya didominasi oleh akademisi dan pengamat yang hanya melihat dokumen kurikulum saja," begitu kira-kira tulisnya.

Galih N

Referensi:
Ronggo Astungkoro, (2021). Nadiem: Kurikulum 2022 Fleksibel, Sekolah Dapat Memilih. https://www.republika.co.id/berita/r3hp61485/nadiem-kurikulum-2022-fleksibel-sekolah-dapat-memilih
Siap-siap 2022 Ganti Kurikulum. Youtube CNN Indonesia. https://youtu.be/J_xsc1UKgHs