Menjadi Pendidik: Tidak Wajib Bagi Sarjana Pendidikan

Sekali lagi, menjadi seorang pendidik dan pengajar. Bukan hanya mereka yang bergelar sarjana pendidikan.

Menjadi Pendidik: Tidak Wajib Bagi Sarjana Pendidikan
Ilustrasi suasana ruang kelas.

Dalam urusan mendidik, seribu teori tidak akan pernah berfungsi. Tanpa sebuah usaha untuk terjun dan mengenal satu demi satu profil dari seorang anak didik, bagai arang habis, besi binasa; sebuah pekerjaan akan banyak menghabiskan tenaga dan biaya, tetapi hasilnya tidak ada.

Looking back at ... school days - Mature Times

Banyak sekali, mereka yang berpendapat bahwa lulusan S.Pd, atau sarjana pendidikan bisa berkiprah dimana saja. Mereka bisa mendapatkan peluang pekerjaan begitu mudah, mau mendaftar di instansi dan lembaga manapun akan diterima. Secara profesi, seorang lulusan sarjana pendidikan memang akan banyak diterima di masyarakat. Tapi bagi seorang pendidik, tidak hanya berbatas sebuah gelar, tiga huruf setelah nama lengkap. S.Pd, bukanlah menjadi syarat utama untuk mencerahkan peradaban kelak.

Menjadi sebuah permasalahan, bagi mereka yang membatasi dan menganggap bahwa jebolan sarjana pendidikan akan berhasil mencetak kader dan generasi yang cerah di masa depan. Acap kali mendengar kabar, menanggapi cuitan yang tersebar, juga menaikkan tagar di media sosial tentang status sosial seorang S.Pd di masyarakat. Apakah seorang sarjana pendidikan hanya bermuara menjadi guru di sekolah, atau sibuk bergelut dengan pendidikan dan pengajaran untuk memperbaiki kualitas pendidikan di setiap jenjang? Ah, tidak selamanya begitu. Memang, menjadi guru adalah satu satunya jalan pintas bagi sarjana pendidikan. Apalagi fresh graduate yang baru saja mengabdikan dan mengabadikan dirinya di masyarakat. Tentu tidak ada pilihan lain, selain mengasah dirinya untuk terjun dalam dunia ajar-mengajar. Rasanya, memang sangat lumrah. Tapi, sesungguhnya masa depan tidak (selalu) membutuhkan pendidik, khususnya sarjana pendidikan. Loh, mengapa demikian?

Iya.

Karena memang syarat menjadi seorang pendidik, tidak harus jebolan sarjana pendidikan. Siapapun boleh berperan menjadi seorang pendidik. Baik dengan nasib sarjana pendidikan, mereka juga tidak wajib untuk harus mengajar di sekolah, berstatus sosial sebagai guru. Mereka boleh mengajar dan mendidik, luar sekolah formal, atau lembaga pendidikan. Mereka bisa mengajar lewat tulisan, video, atau berinovasi dengan karir lainnya tanpa harus terjun di dalamnya. Dewasa ini, banyak sekali mereka yang meremehkan bahwa jaminan keberlangsungan hidup di masa depan, adalah dengan berstatus sebagai sarjana pendidikan. Harapannya, dimanapun nanti mereka bisa menulis rekam jejak hidupnya dengan menjadi seorang guru. Apalagi, dengan iming-iming, sebagai pahlawan tanda jasa, amal jariyah, mencetak generasi unggul bermartabat, dan lain sebagainya.

Mirisnya, saat ekspektasi tak bersinergi dengan realita. Semua cita cita itu hanyut, bak menelan ludah tanpa sisa. Pada akhirnya, nasib sarjana pendidikan melulu itu-itu saja. Padahal menjadi guru di sekolah atau lembaga pendidikan tidak akan pernah bisa menjanjikan di masa depan. Doktrinasi yang tertanam pada benak masyarakat khalayak, tetaplah terpaku dan susah untuk dihilangkan. Alih-alih, setiap orang yang baru saja memilih jalur pendidikan strata satu di fakultas pendidikan, akan mendapatkan stigma, “Kok di fakultas pendidikan, besok kamu bakal jadi guru, loh!” Dan tentu, hal ini akan menjadi momok bagi sebagian orang, karena sarjana pendidikan dinilai tidak bisa mencicipi pengalaman hidup terbaik lainnya untuk mengabdikan dirinya di masyarakat.

Hal ini tentu berpengaruh pada keberlangsungan dalam dunia pendidikan, dan mimpi para pejuang di masa depan. Standar patokan yang ditetapkan sangat susah diubah, pada akhirnya guru juga menjadi sebuah pekerjaan pilihan terakhir, jika di bidang lain tidak diterima. Mengajar dan mendidik sekadarnya, menggugurkan kewajiban, memenuhi absensi di sekolah sebagai alasan terima gaji, menjadi rutinitas keseharian tanpa sebuah cita-cita utama sebelum menjejakkan diri dan sumpah di hadapan Tuhan. Padahal, bukannya guru sangat berpengaruh, dan diharapkan bisa mencetak peradaban yang gemilang. Miris sekali.

Kalau dunia ini hanya dipenuhi manusia tanpa tanggung jawab untuk masa depan, pantas saja jika masih ada yang beralasan untuk bolos sekolah dan kebal dengan hukum dan undang-undang di masyarakat. Menjadi guru, apalagi tenaga pendidik bukan hanya dikhususkan bagi sarjana pendidikan. Mendidik, mengajar, membimbing itu wajib bagi setiap orang. Jadi, siapapun itu boleh mengajar, boleh mendidik, boleh membimbing. Tidak sepatutnya, melimpahkan sebuah tanggung jawab untuk mencetak generasi terbaik di masa depan, dengan hanya berpangku tangan pada tenaga sarjana pendidikan.

Lalu, apakah lantas kemudian bagi setiap orang tua, guru mengaji, guru les, pedagang di pasar, nelayan di laut, yang tidak bergelar sarjana pendidikan tidak leluasa untuk mendidik, membimbing, mengajar anak cucunya? Tentu, batasan itulah yang amat sangat membatasi diri dan merusak, sehingga kecerdasan dan masa depan anak hanya diukur sesuai standar nilai di sekolah, tentu para guru yang mengajarnya, yang tindak tanduknya diamini untuk bisa mengubah karakter anak didiknya.

Sekali lagi, menjadi seorang pendidik dan pengajar. Bukan hanya mereka yang bergelar sarjana pendidikan. Setiap orang punya hak dan kewajiban, dan tentu semua ini tidak boleh disalahgunakan. Jika setiap orang punya ruh dan tanggung jawab terbaik untuk mencetak masa depan. Apakah cita-cita untuk menjadi guru, hanyalah diperuntukkan bagi sarjana pendidikan di masa depan?

NUHBATUL FAKHIROH MAULIDIA

Guru Menulis