Yogo Dwi Prasetyo: Belajar Sains dengan Menyenangkan

Yogo Dwi Prasetyo: Belajar Sains dengan Menyenangkan
Yogo Dwi Prasetyo, M.Pd., M.Sc dalam memberikan materi di 'Webinar Pendidikan Kabupaten Samosir'.

SahabatGuru- Pada Webinar Pendidikan Kabupaten Samosir, Rabu (8/9), Dosen Pengembangan Media Pembelajaran Pendidikan Kimia Universitas Islam Indonesia yang juga aktif di Sahabat Rumah Belajar DIY, Yogo Dwi Prasetyo, M.Pd., M.Sc mengisi webinar dengan tema platform media pembelajaran natural science.

Berdasarkan dari pengamatan kegiatan pembelajaran jarak jauh dapat diketahui bahwa guru memiliki beberapa kesalahan dalam mengajar sains yaitu tidak membuat siswa bersemangat dan menyukai pelajaran sains, tidak memberikan relevansi ilmu terhadap dunia nyata, sehingga dapat menyebabkan siswa tidak memahami manfaat di dunia nyata dari sains dan menurunkan minat siswa untuk belajar sains. 

Yogo juga mengungkapkan bahwa guru dalam mengajar tidak memilih sumber belajar dengan bijak, tidak memberikan ketelitian yang cukup pada pekerjaan siswa, terlalu banyak memberi informasi sehingga siswa menjadi belajar terlalu banyak materi sehingga dapat menurunkan prestasi siswa. Beberapa kesalahan yang dilakukan guru ketika mengajar sains juga dalam bentuk tidak membiarkan anak melakukan kesalahan, dimana siswa menjadi takut menjawab dan tidak aktif. Pembelajaran sains juga terlihat kurang dalam memberikan simulasi atau eksperimen yang cukup khususnya di pelajaran sains, serta kurangnya variasi pembelajaran yang menarik.

Literasi sains adalah kecakapan dalam memahami fenomena alam dan sosial di sekitar dan memiliki kecakapan untuk mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah agar dapat hidup dengan lebih nyaman, lebih sehat, dan lebih baik. Literasi sains dapat dikatakan sangat penting bagi siswa, hal ini dikarenakan mampu menghadapi tantangan abad ke-21, memiliki kemampuan berpikir kritis, menyelesaikan masalah dengan kreatif, bekerja sama dengan orang lain, dan mampu berkomunikasi dengan lebih baik.

Literasi sains diharapkan dapat membuat siswa mampu memilih informasi ilmiah yang tepat, mampu membedakan informasi yang didasari oleh data yang dapat dipertanggungjawabkan atau dari peneliti yang dapat dipercaya. Selain itu, diharapkan siswa juga mampu untuk memahami gambar, bagan, dan tabel pada informasi ilmiah. Literasi sains juga dapat membiasakan siswa untuk menganalisis informasi ilmiah.

Literasi digital merupakan kecakapan menggunakan media digital dengan beretika dan bertanggungjawab untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi. Literasi digital dapat membuat seseorang memecahkan masalah, berkomunikasi dengan lebih lancar, berkolaborasi dengan lebih banyak orang, serta berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Dengan memanfaatkan media digital dalam aktivitas sehari-hari dapat mempermudah dalam mendapat informasi dengan mudah, di mana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja serta komunikasi menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah.

Manfaat literasi digital yaitu menghemat waktu, memperluas jaringan, memperoleh informasi terkini dengan cepat, ramah lingkungan, memperkaya keterampilan, membuat keputusan yang lebih baik, lebih hemat biaya, dan belajar lebih cepat serta efisien.

Yogo menyarankan untuk menyiapkan pembelajaran secara digital dengan memilih materi yang bersifat esensial, lalu siapkan bahan ajar dalam bentuk digital (softfile) dan cetak (hardfile), setelah itu bahan ajar diberikan kepada siswa sebelum pembelajaran, dan yang terakhir adalah menyiapkan latihan soal dan evaluasi untuk mengukur ketercapaian siswa.

Untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi siswa melalui literasi sains dan digital dapat dengan memberikan kesempatan siswa untuk berpartisipasi dalam diskusi dan berpendapat, atau dengan melakukan simulasi khususnya dalam bidang sains melakukan simulasi melalui eksperimen. Hal ini sangat efektif di mana 90% siswa dapat mengingat materi pembelajaran.

Simulasi dalam sains dapat dengan melakukan virtual lab. Virtual lab adalah serangkaian alat-alat laboratorium yang berbentuk perangkat lunak (software) komputer berbasis multimedia interaktif, yang dioperasikan dengan komputer dan dapat mensimulasikan kegiatan di laboratorium seakan-akan pengguna berada pada laboratorium sebenarnya.

Terdapat beberapa manfaat dari menggunakan virtual lab yaitu melindungi siswa saat berurusan dengan bahan (kimia) berbahaya, memberikan pengalaman belajar yang realistis, membantu memecahkan masalah kurangnya kemampuan di sekolah, membantu guru mengevaluasi siswa secara IT, memungkinkan siswa untuk melakukan eksperimen lebih dari sekali tanpa terbatas ruang dan waktu, serta membantu siswa yang pada tahap awal untuk mengatasi kebosanan karena ilmu teoritis yang dipelajari di sekolah.

Dalam akhir sesi webinar, Yogo Dwi Prasetyo, M.Pd., M.Sc memberikan closing statement yang menyentuh untuk para guru: “Media Digital hanya alat bantu, namun tatap muka dan sapaan langsung jauh lebih menghangatkan”.

DAMAYANTI INDAH