Yuk, Kenali Prinsip dan Strategi Pembelajaran di Masa Pandemi

Pembelajaran di kelas sesungguhnya terbentuk dari tiga komponen. Kurikulum, proses pembelajaran, serta asessmen. Ketiga komponen tersebut berhubungan satu dengan yang lainnya. Maka dalam panduan yang diterbitkan Kemendikbud tiga komponen tersebut membentuk siklus pembelajaran. Ketiganya harus dikelola dan dikembangkan selaras dan kohesif. Keselarasan akan membangun sinergitas antar ketiga komponen tersebut sehingga proses pembelajaran akan lebih bermakna. Daya kohesifitas yang tinggi akan meningkatkan dampak proses pembelajaran kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran yakni meningkatkan kompetensi siswa akan lebih mudah tercapai.

Yuk, Kenali Prinsip dan Strategi Pembelajaran di Masa Pandemi
Penggunaan teknologi enjadi sebuah keharusan selama pembelajaran masa pandemi.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah memutuskan bahwa pada tahun pelajaran baru 2022 mendatang proses pembelajaran tatap muka terbatas mulai diberlakukan. Keputusan tersebut ditindaklanjuti  dengan terbitnya Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran PAUDDIKDASMEN di Masa Pandemi COVID-19 oleh Kemendikbud Ristek dan Kemenag.

Panduan ini diharapkan mampu mengeliminasi berbagai permasalahan mendasar dan cukup substantif yang terjadi selama pembelajaran masa Pandemi Covid-19. Disparitas kompetensi guru, kesenjangan layanan internet, psikososial, hingga belum maksimalnya partisipasi orang tua, merupakan permasalahan mendasar yang terjadi.

Resiko besar yang mengancam jika permasalahan tersebut tidak segera diatasi adalah terjadinya penurunan kualitas proses pembelajaran. Dalam dimensi ruang dan waktu yang bersamaan, kita sepakat bahwa jaminan utama kualitas hasil belajar siswa tergantung pada kualitas proses pembelajaran. Maka jika kualitas proses menurun, dapat dipastikan kualitas hasil belajar juga menurun. Dalam konteks inilah muncul terminologi  learning loss, dan jujur harus diakui fenomena itu sedang dan sudah terjadi.

Pembelajaran di kelas sesungguhnya terbentuk dari tiga komponen. Kurikulum, proses pembelajaran, serta asesmen. Ketiga komponen tersebut berhubungan satu dengan yang lainnya. Maka dalam panduan yang diterbitkan Kemendikbudristek tiga komponen tersebut membentuk siklus pembelajaran. Ketiganya harus dikelola dan dikembangkan selaras dan kohesif. Keselarasan akan membangun sinergitas antar ketiga komponen tersebut sehingga proses pembelajaran akan lebih bermakna. Daya kohesifitas yang tinggi akan meningkatkan dampak proses pembelajaran kepada siswa sehingga tujuan pembelajaran yakni meningkatkan kompetensi siswa akan lebih mudah tercapai.

Gambaran tentang keterkaitan antara komponen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut; Tujuan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum menjadi acuan dalam penyusunan asesmen serta proses pembelajaran. Asesmen dan proses pembelajaran memiliki hubungan timbal balik. Proses pembelajaran disusun berdasarkan jenis dan tujuan asesmen. Hasil asesmen digunakan sebagai bahan untuk merancang perbaikan proses pembelajaran. Dan pada akhirnya pelaksanaan asesmen dan proses pembelajaran akan dijadikan bahan untuk pengembangan kurikulum sekolah.

Kurikulum adalah seperangkat tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran adalah cara untuk mewujudkan tujuan tersebut. Asesmen merupakan cara untuk mengukur dan sekaligus upaya untuk melakukan refleksi atas proses yang dilakukan serta mengukur apakah tujuan yang tercapai sudah sesuai dengan target atau belum. Jika dianalogikan  pada sebuah perjalanan wisata atau apapun namanya, maka kurikulum merupakan peta jalan atau arah di tuju. Contoh, jika kita berkeinginan untuk berwisata ke Bali, maka peta perjalanan kita menuju Bali. Nah untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai maka perlu upaya. Misalnya kita datang ke Bali dengan menggunakan pesawat terbang, atau kapal laut, atau naik mobil. Selanjutnya setelah kita tiba di Bali kita bisa merasakan apakah keberadaan kita di Bali sudah sesuai dengan tujuan atau belum, sehingga pada perjalanan berikutnya kita bisa melakukan persiapan yang lebih maksimal.

Dalam konteks pembelajaran, untuk mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana yang tertuang dalam kurikulum tersebut maka kepala sekolah dan guru harus memastikan proses pembelajaran masa Pandemi Covid-19 telah sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan yakni: berorientasi pada siswa, tentang keterampilan hidup, pembelajaran bermakna dan terdiferensiasi, adanya umpan balik serta bersifat inklusif.

Selama proses pembelajaran guru hendaknya menjadikan siswa sebagai orientasi utama. Kebutuhan mereka dalam arti luas harus menjadi prioritas. Proses pembelajaran juga tidak hanya untuk meningkatkan capaian akademik, namun juga bagaimana potensi diri mereka tergali sehingga mampu mengembangkan keterampilan hidup termasuk beradaptasi dengan kondisi Pandemi Covid-19. Siswa harus dibekali dengan upaya untuk menyusun konstruk baru, mempraktikan teori yang diterima dengan kehidupan riil pada lingkungan terdekat (pembelajaran bermakna).

Untuk itu, guru harus mampu menjadikan dirinya sebagai referensi hidup bagi siswa tentang bagaimana memperoleh informasi, mengolah informasi serta memanfaatkan informasi dari berbagai sumber (terdeferensiasi). Kemandirian siswa juga harus menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Karenanya, pemberian umpan balik yang spesifik terkait dengan proses dan hasil belajar siswa menjadi penting. Ingat, siswa adalah sosok yang masih sangat membutuhkan pujian, atau apresiasi. Hal lain yang juga harus diperhatikan guru adalah proses pembelajaran harus bersifat inklusif, bukan  eklusif. Dengan demikian semua siswa memiliki hak yang sama untuk memperoleh pembelajaran secara utuh.

Terkait dengan strategi pembelajaran, pemerintah berharap satuan pendidikan tetap menyediakan dua opsi yakni Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) serta Pembelajaran Tatap Muka ( PTM ) terbatas. Keputusan pemilihan opsi ini sepenuhnya diserahkan kepada orang tua siswa. Namun sekolah berkewajiban memfasilitasi kedua strategi pembelajaran tersebut.

Jika pilihan pada pembelajaran jarak jauh, maka dibutuhkan piranti pendukung yang berbasis teknologi seperti teknologi pembelajaran, teknologi interaktif, serta tehnologi komunikasi satu arah. Perkembangan piranti yang berkaitan dengan teknologi pembelajaran dalam setahun belakangan ini berkembang dengan sangat pesat. Aplikasi e-learning bertumbuh sejalan dengan kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi. Karenanya tidaklah sulit untuk mencari teknologi pembelajaran saat ini. Namun mengingat piranti ini padat teknologi, maka dibutuhkan sumber daya tertentu yang lebih besar dan dalam konteks ini satuan pendidikan masih belum mampu memberikan layanan yang maksimal.

Dunia digital telah mengubah landscape kehidupan masyarakat kita. Karenanya penggunaan teknologi interaktif sudah menjadi trend baru masyarakat. Karena itu penggunaan teknologi interaktif dalam proses pembelajaran makin mudah. Piranti lain yang juga direkomendasikan untuk tetap dijadikan sumber dan bahan pembelajaran jarak jauh adalah piranti yang berbasis teknologi satu arah seperti Radio dan Televisi. Piranti ini relatif bisa terjangkau oleh hampir sebagian siswa kita.

Opsi lain yang juga bisa diambil pihak sekolah yaitu guru kunjung. Opsi ini memungkinkan sekolah untuk mendatangkan guru ke rumah siswa. Umumnya program guru kunjung dilakukan pada kodisi geografis yang sangat tidak memungkinkan siswa untuk datang ke sekolah, dan sekaligus menggunakan piranti tehnologi sebagai media pembelajaran.

Sepanjang tahun 2021 kita telah disuguhi dengan beragam dampak sosial akibat pandemi yang berkepanjangan. Indikasi naiknya angka putus sekolah, terjadinya kekerasan domestik yang dialami siswa, serta ketimpangan sosial, maka pilihan pembelajaran tatap muka terbatas menjadi pilihan dan diupayakan terlaksana. Pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas akan sangat memungkinkan dilakukan proses pembelajaran campuran (blended learning). Maka dalam konteks ini sekolah akan mampu mengoptimalkan segala sumber daya yang ada.

A.A. Ketut Jelantik